Gunung tumbu dan cerita rakyat

Gunung Tumbu

[dropcap]J[/dropcap]ika anda melakukan perjalanan di Kecamatan Purwodadi Kabupaten Pasuruan, lebih tepatnya 5 KM dari jalan raya Malang-Surabaya, kemudian Desa Sentul ke arah barat, anda akan menemukan sebuah desa yang bernama Jatisari, Dusun Penjalinan. Di ujung barat dusun itulah anda akan menemukan sebuah gunung, yang bernama Gunung Tumbu.

Gunung ini tidak begitu terlihat jelas karena yang tampak hanyalah sebuah bukit kecil dengan tanaman pohon pinus milik Perhutani. Dan pada kaki-kaki gunung tersebut, merupakan ladang warga setempat. Agak berbeda memang dari gunung-gunung pada umumnya, yang biasanya terdapat beraneka-ragam pohon-pohon besar dan satwa liar di dalamnya.

Jalan menuju puncak sangatlah mudah, karena merupakan jalur warga menuju ladang mereka. Jalan yang masih berupa tanah dengan lebar kurang-lebih tiga meter bisa dilalui mobil truck sampai ke kaki gunung tersebut.

Pada puncak gunung tersebut terdapat beberapa batu besar, yang sebagian tertimbun tanah dan daun-daun pohon pinus yang menghampar di atasanya. Di sana-sini tampak sisa-sisa potongan dupa yang belum habis terbakar ataupun perapen (wadah bakar kemenyan) menandakan tempat ini sering dikunjungi orang-orang dengan membawa hajat ataupun yang mereka yang mempunyai kebutuhan dengan hal-hal berbau mistis. Pemandangan lain yang tidak kalah menariknya yaitu berada di sebelah timur lereng gunung tersebut.

Di sana terdapat beberapa batu mulai dari ukuran besar sampai kecil yang berbentuk gamelan pewayangan. Ironisanya beberapa dari batu tersebut telah hilang ataupun rusak karena pada sekitar tahun 1995 ada beberapa warga setempat melakukan penambangan dengan menghancurkan dan menjual beberapa dari batu tersebut. Sangat disayangkan memang benda yang seharusnya menjadi bukti sejarah dan peradaban masa lampau kini banyak yang hilang. Entah seandainya tempat itu digali mungkin masih banyak peninggalan benda-benda bersejarah di dalamnya. Karena selama ini belum ada arkeolog ataupun dinas terkait datang dan menggali informasi tersembunyi di gunung tersebut.

Suasana misteri memang sangat kuat menyelimuti keberadaan gunung yang sebenarnya lebih layak disebut bukit tersebut. Dari cerita masyarakat yang turun-temurun hingga saat ini entah benar atau tidak. Gunung Tumbu yang berasal dari bahasa Jawa Tumbu yang artinya wadah makanan yang terbuat dari anyaman bambu. Wadah tersebut dipercayai merupakan wadah makan Semar, yang pada waktu itu mengangkut sebagian dari Gunung Arjuno untuk dibawa ke Gunung Semeru. Pada saat dalam perjalanan,  Semar berhenti istirahat untuk makan dan kemudian meninggalkan tumbu tersebut. Entah cerita pastinya bagaimana tumbu yang ditinggal tersebut berubah menjadi sebuah gunung. Inilah yang menjadi kepercayaan warga sampai saat ini.

Cerita-cerita lain yang tidak kalah menariknya yaitu tentang hal-hal yang berbau mistik di tempat yang masih relatif alami itu. Misalnya, menurut sesepuh desa ataupun masyarakat yang pada saat ini sudah berusia lanjut bahwa di gunung yang keberadaannya masih belum dikenal luas itu dulu pada setiap malam jumat legi selalu mengeluarkan suar gamelan selayaknya pementasan wayang kulit. Cerita serupa juga diaminkan oleh warga desa lain di sekitar gunung tersebut.

Cerita ini lah yang terus berkembang di kalangan masyarakat turun-temurun dari nenek moyang mereka hingga saat ini. Sehingga muncul sebuah mitos bahwa apabila warga setempat menyelenggarakan pementasan wayang kulit maka—menurut kepercayaan—hal itu akan mendatangkan bencana bagi masyarakat Penjalinan dan sekitarnya.

Post Author: kabarjatisari

kabarjatisari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *